- Firman Allah Swt: “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (An-Nahl: 89)
- Firman Allah Swt: “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Al-Ma’idah: 15-16).
- Firman Allah Swt: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi ouang-orang yang beriman. ” (Yunus: 57).
- Sabda Rasulullah Saw: “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa ‘at bagi pembacanya.” (HR. Muslim dari Abu Umamah).
- Dari An-Nawwas bin Sam’an ra. katanya: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: “Didatangkan pada hari Kiamat Al-Qur’an dan para pembacanya yang mereka itu dahulu mengamalkannya di dunia, dengan didahului oleh surat Al Baqarah dan Ali Imran yang membela pembaca kedua surat ini.” (HR, Muslim).
- Dari Utsman bin Affan ra, katanya: Rasulullah Saw bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari)
- Dari Ibnu Mas’ud ra, katanya: Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf; lam satu huruf dan mim satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi, katanya: hadits hasan shahih).
- Dari Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash ra, bahwa Nabi Saw bersabda: “Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an: “Bacalah, naiklah dan bacalah dengan pelan sebagaimana yang telah kamu lakukan di dunia, karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang kamu baca.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dengan mengatakan: hadits hasan shahih).
- Dari Aisyah ra, katanya: Nabi Saw bersabda: “Orang yang membaca Al-Qur’an dengan mahir adalah bersama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan tergagap dan susah membacanya baginya dua pahala.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih). Dua pahala, yakni pahala membaca dan pahala susah payahnya.
- Dari Ibnu Umar ra, Nabi Saw bersabda: “Tidak boleh hasad (iri) kecuali dalam dua perkara, yaitu: orang yang dikaruniai Allah Al-Qur’an lalu diamalkannya pada waktu malam dan siang, dan orang yang dikaruniai Allah harta lalu diinfakkannya pada waktu malam dan siang”. (Hadits Muttafaq ‘Alaih). Yang dimaksud hasad di sini yaitu mengharapkan seperti apa yang dimiliki orang lain. (Lihat kitab Riyadhus Shaalihiin, hlm. 467-469).
- Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah mempunyai 2 ahli diantara manusia”. Sahabat bertanya, ”Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Ahli Al-Qur’an adalah ahli Allah, dan orang-Nya khusus.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).
- Dalam hadist yang lain, Rasulullah SAW bersabda: Dikatakan kepada orang yang berteman dengan Al-Qur’an, “Bacalah dan bacalah sekali lagi serta bacalah dengan tartil, seperti yang dilakukan di dunia, karena manzilah-mu terletak di akhir ayat yang engkau baca. “ (HR Tirmidzi)
- Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Al-Qur’an bertemu pembacanya pada hari kiamat saat kuburannya dikuak, dalam rupa seorang laki-laki yang pucat. Dia (Al-Qur’a) bertanya, “apakah engkau mengenalku? Dia menjawab, “aku tidak mengenalmu!”. Al-Qur’an berkata, “Aku adalah temanmu, Al-Qur’an, yang membuatmu kehausan pada siang hari yang panas dan membuatmu terjaga pada malam hari. Sesungguhnya pedagang itu mengharapkan hasil dagangannya, dan sesungguhnya pada hari ini aku adalah milikmu dari hasil seluruh perdaganganmu, lalu dia memberikan hak milik orang itu Al-Qur’an dengan tangan kanan dan memberikan keabadian dengan tangan kirinya, lalu di atas kepalanya disematkan mahkota yang berwibawa, sedangkan Al-Qur’an mengenakan 2 pakaian yang tidak kuat disangga oleh dunia. Kedua pakaian ini bertanya, “Karena apa kami engkau kenakan?”. Ada yang menjawab: “Karena peranan Al-Qur’an. Kemudian dikatakan kepada orang itu,”Bacalah sambil naik ketingkatan-tingkatan syurga dan biliknya, maka dia naik sesuai dengan apa yang dibacanya, baik baca dengan cepat, maupun dengan tartil.” (HR Ahmad).
- Dari Abu Umamah ra, Rasulullah Saw bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat, sebagai pembela pada orang yang mempelajari dan mentaatinya.” (HR Muslim).
- Dari An Nawas bin Sam’an, Rasulullah Saw bersabda, ”Pada hari kiamat akan didatangkan Al-Qur’an dan orang-orang yang mempraktekan di dunia, didahului oleh surah Al Baqarah dan Ali Imran yang akan membela dan mempertahankan orang-orang yang mentaatinya.” (HR. Muslim).
- Dari Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah Saw bersabda, ” Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka akan mendapat hasanat dan tiap hasanat mempunyai pahala berlipat 10 kali. Saya tidak berkata Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dn Mim satu huruf.” (HR Tirmidzi)
- Dari Aisyah ra, Raslullah Saw bersabda, ”Orang yang mahir dalam membaca Al-Qur’an akan berkumpul para malaikat yang mulia-mulia lagi taat. Sedang siapa orang yang megap-megap dan berat jika membaca Al-Qur’an, mendapat pahala 2 kali lipat.” (HR Bukhari, Muslim)
- Dari Al Barra bin Azib ra, “ Ada seorang membaca surat Al Kahfi sedang tidak jauh dari tempatnya, ada kuda yang terikat dengan tali kanan kiri, tiba-tiba orang itu diliputi oleh cahaya yang selalu mendekat kepadanya, sedang kuda itu lari ketakutan. Dan pada pagi hari ia datang memberi tahu kejadian itu kepada Nabi Saw, maka bersabda nabi Saw, ”Itulah ketenangan (rahmat) yang telah turun untuk bacaan Al-Qur’an itu.” (HR Bukhori dan Muslim).
Kamis, 11 Agustus 2011
Keutamaan Al Qur'an
Hadits-hadits Cinta
Cinta yang memberikan cahaya“Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah itu ada beberapa orang yang bukan nabi dan syuhada menginginkan keadaan seperti mereka, karena kedudukannya disisi Allah. Sahabat bertanya :
“Ya Rasulullah, tolong kami beritahu siapa mereka ? Rasulullah SAW. Menjawab : Mereka adalah satu kaum yang cinta mencintai dengan ruh Allah tanpa ada hubungan sanak saudara, kerabat diantara mereka serta tidak ada hubungan harta benda yang ada pada mereka. Maka, demi Allah wajah-wajah mereka sungguh bercahaya, sedang mereka tidak takut apa-apa dikala orang lain takut, dan mereka tidak berduka cita dikala orang lain berduka cita” (H.R. Abu Daud)
Cinta yang menggugurkan dosa“Sesungguhnya seorang muslim apabila bertemu saudaranya yang muslim, lalu ia memegang tangannya (berjabat tangan) gugurlah dosa keduanya sebagaimana gugurnya daun dan pohon kering jika ditiup angin kencang. Sungguh diampuni dosa mereka berdua, meski sebanyak buih dilaut” (H.R. Tabrani)
Cinta yang memberikan keteduhan“Sesungguhnya Allah SWT pada hari kiamat berfirman : “Dimanakah orang yang cinta mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan menaungi dengan menunggu-Ku dihari yang tiada naungan melainkan naungan-Ku” (H.R. Muslim)
Cinta yang berbalas cinta
“Allah swt berfirman, “pasti akan mendapat cinta-Ku orang-orang yang cinta mencintai karena Aku, saling kunjung mengunjungi karena Aku dan saling memberi karena Aku” (Hadits Qudsi)
Karena cinta, dicintai-Nya
“Bahwa seseorang mengunjungi saudaranya di desa lain, lalu Allah mengutus malaikat untuk membuntutinya. Tatkala malaikat menemaninya malaikat berkata,
“Kau mau kemana ?”
Ia menjawab, “Aku ingin mengujungi saudaraku di desa ini”
Malaikat terus bertanya, “Apakah kamu akan memberikan sesuatu pada saudaramu ?”
Ia menjawab, “Tidak ada, melainkan hanya aku mencintainya karena Allah SWT”
Malaikat berkata, “Sesungguhnya aku diutus Allah kepadamu, bahwa Allah mencintaimu sebagaimana kamu mencintai orang tersebut karena-Nya” (H.R. Muslim)
Tiga cinta yang manis
Tiga perkara, yang barang siapa memilikinya, ia dapat merasakan manisnya iman, yaitu cinta kepada Allah dan Rasul melebihi cintanya kepada selain keduanya, cinta kepada seseorang karena Allah dan membenci kekafiran sebagaimana ia tidak mau dicampakan ke dalam api neraka” (H.R. Bukhari-Muslim)
“Ya Rasulullah, tolong kami beritahu siapa mereka ? Rasulullah SAW. Menjawab : Mereka adalah satu kaum yang cinta mencintai dengan ruh Allah tanpa ada hubungan sanak saudara, kerabat diantara mereka serta tidak ada hubungan harta benda yang ada pada mereka. Maka, demi Allah wajah-wajah mereka sungguh bercahaya, sedang mereka tidak takut apa-apa dikala orang lain takut, dan mereka tidak berduka cita dikala orang lain berduka cita” (H.R. Abu Daud)
Cinta yang menggugurkan dosa“Sesungguhnya seorang muslim apabila bertemu saudaranya yang muslim, lalu ia memegang tangannya (berjabat tangan) gugurlah dosa keduanya sebagaimana gugurnya daun dan pohon kering jika ditiup angin kencang. Sungguh diampuni dosa mereka berdua, meski sebanyak buih dilaut” (H.R. Tabrani)
Cinta yang memberikan keteduhan“Sesungguhnya Allah SWT pada hari kiamat berfirman : “Dimanakah orang yang cinta mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan menaungi dengan menunggu-Ku dihari yang tiada naungan melainkan naungan-Ku” (H.R. Muslim)
Cinta yang berbalas cinta
“Allah swt berfirman, “pasti akan mendapat cinta-Ku orang-orang yang cinta mencintai karena Aku, saling kunjung mengunjungi karena Aku dan saling memberi karena Aku” (Hadits Qudsi)
Karena cinta, dicintai-Nya
“Bahwa seseorang mengunjungi saudaranya di desa lain, lalu Allah mengutus malaikat untuk membuntutinya. Tatkala malaikat menemaninya malaikat berkata,
“Kau mau kemana ?”
Ia menjawab, “Aku ingin mengujungi saudaraku di desa ini”
Malaikat terus bertanya, “Apakah kamu akan memberikan sesuatu pada saudaramu ?”
Ia menjawab, “Tidak ada, melainkan hanya aku mencintainya karena Allah SWT”
Malaikat berkata, “Sesungguhnya aku diutus Allah kepadamu, bahwa Allah mencintaimu sebagaimana kamu mencintai orang tersebut karena-Nya” (H.R. Muslim)
Tiga cinta yang manis
Tiga perkara, yang barang siapa memilikinya, ia dapat merasakan manisnya iman, yaitu cinta kepada Allah dan Rasul melebihi cintanya kepada selain keduanya, cinta kepada seseorang karena Allah dan membenci kekafiran sebagaimana ia tidak mau dicampakan ke dalam api neraka” (H.R. Bukhari-Muslim)
Kisah Ketika Iblis membentang sajadah di masjid
"Siang menjelang dzuhur. Salah satu Iblis ada di Masjid. Kebetulan hari itu Jum'at, saat berkumpulnya orang. Iblis sudah ada dalam Masjid. Ia tampak begitu khusyuk. Orang mulai berdatangan. Iblis menjelma menjadi ratusan bentuk & masuk dari segala penjuru, lewat jendela, pintu, ventilasi, atau masuk lewat lubang pembuangan air.
Pada setiap orang, Iblis juga masuk lewat telinga, ke dalam syaraf mata, ke dalam urat nadi, lalu menggerakkan denyut jantung setiap para jamaah yang hadir. Iblis juga menempel di setiap sajadah. "Hai, Blis!", panggil Kiai, ketika baru masuk ke Masjid itu. Iblis merasa terusik : "Kau kerjakan saja tugasmu, Kiai. Tidak perlu kau larang-larang saya. Ini hak saya untuk menganggu setiap orang dalam Masjid ini!", jawab Iblis ketus.
"Ini rumah Tuhan, Blis! Tempat yang suci,Kalau kau mau ganggu, kau bisa diluar nanti!", Kiai mencoba mengusir.
"Kiai, hari ini, adalah hari uji coba sistem baru". Kiai tercenung. "Saya sedang menerapkan cara baru, untuk menjerat kaummu". "Dengan apa?"
"Dengan sajadah!"
"Apa yang bisa kau lakukan dengan sajadah, Blis?"
"Pertama, saya akan masuk ke setiap pemilik saham industri sajadah. Mereka akan saya jebak dengan mimpi untung besar. Sehingga, mereka akan tega memeras buruh untuk bekerja dengan upah di bawah UMR, demi keuntungan besar!"
"Ah, itu kan memang cara lama yang sering kau pakai. Tidak ada yang baru,Blis?"
"Bukan itu saja Kiai..."
"Lalu?"
"Saya juga akan masuk pada setiap desainer sajadah. Saya akan menumbuhkan gagasan, agar para desainer itu membuat sajadah yang lebar-lebar"
"Untuk apa?"
"Supaya, saya lebih berpeluang untuk menanamkan rasa egois di setiap kaum yang Kau pimpin, Kiai! Selain itu, Saya akan lebih leluasa, masuk dalam barisan sholat. Dengan sajadah yang lebar maka barisan shaf akan renggang. Dan saya ada dalam kerenganggan itu. Di situ Saya bisa ikut membentangkan sajadah".
Dialog Iblis dan Kiai sesaat terputus. Dua orang datang, dan keduanya membentangkan sajadah. Keduanya berdampingan. Salah satunya, memiliki sajadah yang lebar. Sementara, satu lagi, sajadahnya lebih kecil.
Orang yang punya sajadah lebar seenaknya saja membentangkan sajadahnya, tanpa melihat kanan-kirinya.
Sementara, orang yang punya sajadah lebih kecil, tidak enak hati jika harus mendesak jamaah lain yang sudah lebih dulu datang. Tanpa berpikir panjang, pemilik sajadah kecil membentangkan saja sajadahnya, sehingga sebagian sajadah yang lebar tertutupi sepertiganya.
Keduanya masih melakukan sholat sunnah.
"Nah, lihat itu Kiai!", Iblis memulai dialog lagi.
"Yang mana?"
"Ada dua orang yang sedang sholat sunnah itu. Mereka punya sajadah yang berbeda ukuran. Lihat sekarang, aku akan masuk diantara mereka".
Iblis lenyap.
Ia sudah masuk ke dalam barisan shaf.
Kiai hanya memperhatikan kedua orang yang sedang melakukan sholat sunah. Kiai akan melihat kebenaran rencana yang dikatakan Iblis sebelumnya. Pemilik sajadah lebar, rukuk. Kemudian sujud. Tetapi, sembari bangun dari sujud, ia membuka sajadahya yang tertumpuk, lalu meletakkan sajadahnya di atas sajadah yang kecil. Hingga sajadah yang kecil kembali berada di bawahnya. Ia kemudian berdiri. Sementara, pemilik sajadah yang lebih kecil, melakukan hal serupa.
Ia juga membuka sajadahnya, karena sajadahnya ditumpuk oleh sajadah yang lebar. Itu berjalan sampai akhir sholat. Bahkan, pada saat sholat wajib juga, kejadian-kejadian itu beberapa kali terihat di beberapa masjid. Orang lebih memilih menjadi di atas, ketimbang menerima di bawah. Di atas sajadah, orang sudah berebut kekuasaan atas lainnya. Siapa yang memiliki sajadah lebar, maka, ia akan meletakkan sajadahnya diatas sajadah yang kecil. Sajadah sudah dijadikan Iblis sebagai pembedaan kelas.
Pemilik sajadah lebar, diindentikan sebagai para pemilik kekayaan, yang setiap saat harus lebih di atas dari pada yang lain. Dan pemilik sajadah kecil, adalah kelas bawah yang setiap saat akan selalu menjadi sub-ordinat dari orang yang berkuasa.
Di atas sajadah, Iblis telah mengajari orang supaya selalu menguasai orang lain.
"Astaghfirullahal adziiiim ", ujar sang Kiai pelan.
Rabu, 10 Agustus 2011
Saf Solat
Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda (yang artinya): “Luruskan shaf-shaf kalian, karena meluruskan shaf termasuk kesempurnaan shalat” (Hadits riwayat Bukhari, dalam Fathul Bari No 723).
Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda (yang artinya): “Benar-benarlah kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah akan membuat berselisih di antara wajah-wajah kalian” (Hadits riwayat Bukhari 717, Muslim 127, Lafadz ini dari Muslim). Berkata Imam An Nawawi, “Makna hadist ini adalah akan terjadi di antara kalian permusuhan, kebencian dan perselisihan di hati”.
Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda (yang artinya): “Luruskan shaf kalian, jadikan setentang di antara bahu-bahu, dan tutuplah celah-celah yang kosong, lunaklah terhadap tangan saudara kalian dan jangan kalian meninggalkan celah-celah bagi syaithon. Barangsiapa menyambung shaf maka Allah menyambungkannya dan barangsiapa memutuskannya maka Allah akan memutuskannya” (Hadits riwayat Bukhari, Abu Dawud 666) Dishahihkan Syaikh Al Albany dalam Shahih Sunan Abi Dawud.
Dari Abu Qosim Al Jadali berkata: Aku mendengan Nu’man Bin Basyir berkata, “Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasalam menghadapkan wajahnya kepada manusia dan bersabda (yang artinya): Luruskan shaf-shaf kalian (3 kali) Demi Allah benar-benar kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah akan menjadikan hati kalian berselisih”.
Nu’man berkata, “Maka aku melihat seseorang melekatkan bahunya dengan bahu kawannya, lututnya dengan lutut kawannya, mata kaki dengan mata kaki kawannya” (Hadits riwayat Abu Dawud 662, Ibnu Hibban 396, Ahmad 4272)Dishahihkan Syaikh Al Albany dalam As Shahihah No 32.
Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda (yang artinya): “Luruskan shaf-shaf kalian, karena meluruskan shaf termasuk kesempurnaan shalat” (Hadits riwayat Bukhari, dalam Fathul Bari No 723).
Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda (yang artinya): “Benar-benarlah kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah akan membuat berselisih di antara wajah-wajah kalian” (Hadits riwayat Bukhari 717, Muslim 127, Lafadz ini dari Muslim). Berkata Imam An Nawawi, “Makna hadist ini adalah akan terjadi di antara kalian permusuhan, kebencian dan perselisihan di hati”.
Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda (yang artinya): “Luruskan shaf kalian, jadikan setentang di antara bahu-bahu, dan tutuplah celah-celah yang kosong, lunaklah terhadap tangan saudara kalian dan jangan kalian meninggalkan celah-celah bagi syaithon. Barangsiapa menyambung shaf maka Allah menyambungkannya dan barangsiapa memutuskannya maka Allah akan memutuskannya” (Hadits riwayat Bukhari, Abu Dawud 666) Dishahihkan Syaikh Al Albany dalam Shahih Sunan Abi Dawud.
Dari Abu Qosim Al Jadali berkata: Aku mendengan Nu’man Bin Basyir berkata, “Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasalam menghadapkan wajahnya kepada manusia dan bersabda (yang artinya): Luruskan shaf-shaf kalian (3 kali) Demi Allah benar-benar kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah akan menjadikan hati kalian berselisih”.
Nu’man berkata, “Maka aku melihat seseorang melekatkan bahunya dengan bahu kawannya, lututnya dengan lutut kawannya, mata kaki dengan mata kaki kawannya” (Hadits riwayat Abu Dawud 662, Ibnu Hibban 396, Ahmad 4272)Dishahihkan Syaikh Al Albany dalam As Shahihah No 32.
Minggu, 26 Juni 2011
Hari Kiamat
Pengetahuan tentang hari kiamat itu perkara ghaib yang tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Al Qur’an dan Hadits.
Pengetahuan tentang kiamat adalah masalah yang dirahasiakan oleh Allah, dan tidak diperlihatkan kepada makhluk seperti malaikat, nabi dan rasul. Tidak ada satupun manusia yang mengetahui kapan hari kiamat akan terjadi, kecuali Allah swt. Rasulullah saw sering menyebut kiamat dan permasalahannya, maka banyak orang yang bertanya tentang waktu ( kapan ) terjadinya kiamat. Rasulullah menceritakan kepada mereka bahwa itu adalah masalah ghaib yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, dan ayat Al Qur’an diturunkan untuk menjelaskan bahwa hari kiamat itu termasuk perkara yang dirahasiakan, sebagaimana firman Allah:

“ Mereka menanyakan kepadamu ( Muhammad ) tentang kiamat, kapankah terjadinya? Katakanlah,” Sesunguhnya pengetahuan tentang kiamat itu ada pada sisi Tuhanku. Tidak ada seorangpun yang dapat menjelaskan waktu datangnya selain Dia. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu selain dengan tiba-tiba.’ Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah,’ Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui !.” ( QS Al A’raaf: 187 )
Allah memerintah Nabi Muhammad saw untuk menyampaikan kepada manusia, bahwa pengetahuan tentang kiamat itu hanya Allah yang mengetahui. Tidak ada yang mengetahui datangnya kiamat, baik makhluq yang ada di bumi maupun di langit.
Allah swt berfirman:

“ Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah,’ Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah.’ Dan tahukah kamu ( hai Muhammad ), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya.” ( QS Al Ahzab: 63 )
Allah berfirman:
“ ( Orang-orang kafir ) bertanya kepadamu ( Muhammad ) tentang hari berbangkit, kapankah terjadinya? Siapakah kamu ( maka ) dapat menyebutkan ( waktunya )? Kepada Tuhanmu-lah dikembalikan kesudahannya ( ketentuan waktunya ).” ( QS An Naazi’at: 42-44 )
Karena itu, ketika Jibril a.s. bertanya kepada Rasulullah saw tentang kiamat sebagaimana keterangan dalam hadits yang panjang, Nabi saw bersabda,” Tidaklah orang yang ditanya itu lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.” ( Musnad Ahmad 5/ 189 hadits nomor 3556 ). Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad saw saja tidak mengetahui kapan waktu terjadinya hari kiamat. Bahkan Nabi Isa a.s. juga tidak mengetahui kapan terjadinya kiamat, padahal turunnya Isa itu berdekatan dengan kiamat dan itu termasuk tanda-tanda kiamat besar.
Imam Ahmad, Ibnu Majah dan Hakim meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a. dari Nabi saw, beliau bersabda,” Saya bertemu Ibrahim, Musa dan Isa ketika saya diisra’kan.” Beliau lalu melanjutkan,” Mereka ( Ibrahim, Musa, Isa ) membicarakan masalah kiamat. Mereka menyerahkan masalahnya kepada Ibrahim, lalu beliau ( Ibrahim ) menjawab,’ Saya tidak mengerti.’ Kemudian mereka menyerahkan kepada Musa. Beliau ( Musa ) pun menjawab,’ Saya tidak mengerti.’ Kemudian diserahkan kepada Isa. Isa a.s. lalu menjawab,’ Adapun kepastiannya, tidak ada satu pun orang yang mengetahuinya kecuali Allah, dan Tuhanku memperlihatkan bahwa Dajjal akan keluar.’ Beliau ( Isa ) berkata,’ Dan saya membawa dua potong dahan. Maka jika dia ( Dajjal ) melihatku, dia akan hancur seperti timah.’ Rasulullah saw bersabda,” Maka Allah akan membinasakannya.” ( Musnad Ahmad 5/ 289 Hadits nomor 3557, ditahqiq Ahmad Syakir dan dikatakan “ isnad”nya shahih. )
Mereka, para Nabi yang bergelar Ulul Azmi saja, tidak mengetahui kapan kiamat terjadi. Dan Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah r.a., dia berkata,’ Saya mendengar Nabi saw bersabda ( sebulan sebelum beliau wafat ),” Engkau bertanya kepadaku tentang kiamat? Pengetahuan tentang kiamat itu hanya bagi Allah, dan saya bersumpah demi Allah tidak ada di atas bumi, manusia yang masih hidup setelah seratus tahun lagi ( yang sekarang ia masih hidup ). ( Shahih Muslim, kitab “ Keutamaan Shahabat” Bab penjelasan sabda Nabi seratus tahun lagi tidak manusia yang hidup ( yang pada waktu Nabi saw bersabda, beliau masih hidup ) 16: 90-91 ). Maksudnya hadits ini untuk menghilangkan dugaan kemungkinan Nabi saw mengetahui datangnya hari kiamat setelah ditanya Malaikat Jibril tentang kiamat itu.
Imam Ibnu Katsir berkata,” Inilah Nabi yang ummi, kepala para utusan dan Nabi yang terakhir, Nabi pembawa rahmat, penerima taubat, Nabi yang diikuti dan yang mengumpulkan manusia pada hari kiamat sebagaimana dikatakan dalam hadits shahih dari Anas r.a. dan Sahal bin Sa’id r.a.,” Saya diutus dan kiamat seperti dua perkara ini”. Lalu beliau menghimpun jari telunjuk dan jari tengahnya. Dan bersamaan dengan ini semua, Allah telah memerintahkan untuk mengembalikan masalah kiamat ini kepada Allah, apabila beliau ditanya tentang hari kiamat. Allah SWT berfirman:
“ Katakanlah,’ Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” ( QS Al A’raaf: 187 )
Dan barangsiapa yang menduga bahwa Nabi saw mengetahui kapan kiamat terjadi, maka dia amat bodoh karena Al Qur’an dan hadits menolak pendapat itu.
Ibnul Qayyim berkata,” Dan sungguh berdusta secara terang-terangan bagi orang yang menduga pada saat ini bahwa dirinya mengetahui kiamat. Hal ini disebabkan dia belum puas dengan penjelasan Rasulullah saw tentang kapan terjadinya hari kiamat. Maka perlu dikatakan kepadanya bahwa Rasulullah saw bersabda dalam kitab Jibril,” Tidaklah orang yang ditanya itu lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.
Ibnu Katsir berkata,” Apa yang tertera dalam kitab cerita Israiliyat dan ahli kitab tentang batasan ribuan dan ratusan tahun, banyak ulama yang menyalahkan, dan itu memang sikap yang tepat.” Memang terdapat sebuah hadits,” Umur dunia itu ibarat sejum’at dari beberapa jum’at di akhirat.” Hadits ini sanadnya tidak shahih, demikian juga semua hadits yang menerangkan tentang batasan umur dengan pasti mengenai hari kiamat. ( An Nihayah ).
Sebagaimana orang tidak mengetahui kapan hari kiamat terjadi, maka dia juga tidak mengetahui kapan munculnya tanda-tanda kiamat. Dan jika ada keterangan atau suatu pernyataan kiamat akan terjadi pada tahun sekian, tahun sekian, bulan ini itu, maka itu pasti dan sangat pasti itu tidak benar,dusta besar, bohong besar.
Imam Qurthubi berkata,” Bahwa segala yang diceritakan oleh Nabi saw tentang fitnah dan peristiwa dunia dan ketetapan tahun terjadinya itu membutuhkan jalan ( sanad/ riwayat ) yang benar dan meyakinkan, seperti waktu terjadinya kiamat, maka tidak ada satu orang manusiapun yang mengetahui pada tahun kapan atau bulan apa. Adapun terjadinya kiamat pada hari Jum’at ( sama dengan saat penciptaan Adam a.s. ) itu adalah pada masa terakhir. Akan tetapi hari Jum’at yang mana, tidak ada yang mengetahui kecuali Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Begitu juga ketentuan tanda-tanda zaman, tidak ada yang tahu kecuali Allah Yang Maha Mengetahui. ( Tadzkiroh Fii Ahwal Al Manta wa Umur Al Akhirah hal 678 karya Al Qurthubi ). Wallohu a’lam.
Pengetahuan tentang kiamat adalah masalah yang dirahasiakan oleh Allah, dan tidak diperlihatkan kepada makhluk seperti malaikat, nabi dan rasul. Tidak ada satupun manusia yang mengetahui kapan hari kiamat akan terjadi, kecuali Allah swt. Rasulullah saw sering menyebut kiamat dan permasalahannya, maka banyak orang yang bertanya tentang waktu ( kapan ) terjadinya kiamat. Rasulullah menceritakan kepada mereka bahwa itu adalah masalah ghaib yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, dan ayat Al Qur’an diturunkan untuk menjelaskan bahwa hari kiamat itu termasuk perkara yang dirahasiakan, sebagaimana firman Allah:

“ Mereka menanyakan kepadamu ( Muhammad ) tentang kiamat, kapankah terjadinya? Katakanlah,” Sesunguhnya pengetahuan tentang kiamat itu ada pada sisi Tuhanku. Tidak ada seorangpun yang dapat menjelaskan waktu datangnya selain Dia. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu selain dengan tiba-tiba.’ Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah,’ Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui !.” ( QS Al A’raaf: 187 )
Allah memerintah Nabi Muhammad saw untuk menyampaikan kepada manusia, bahwa pengetahuan tentang kiamat itu hanya Allah yang mengetahui. Tidak ada yang mengetahui datangnya kiamat, baik makhluq yang ada di bumi maupun di langit.
Allah swt berfirman:

“ Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah,’ Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah.’ Dan tahukah kamu ( hai Muhammad ), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya.” ( QS Al Ahzab: 63 )
Allah berfirman:
“ ( Orang-orang kafir ) bertanya kepadamu ( Muhammad ) tentang hari berbangkit, kapankah terjadinya? Siapakah kamu ( maka ) dapat menyebutkan ( waktunya )? Kepada Tuhanmu-lah dikembalikan kesudahannya ( ketentuan waktunya ).” ( QS An Naazi’at: 42-44 )
Karena itu, ketika Jibril a.s. bertanya kepada Rasulullah saw tentang kiamat sebagaimana keterangan dalam hadits yang panjang, Nabi saw bersabda,” Tidaklah orang yang ditanya itu lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.” ( Musnad Ahmad 5/ 189 hadits nomor 3556 ). Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad saw saja tidak mengetahui kapan waktu terjadinya hari kiamat. Bahkan Nabi Isa a.s. juga tidak mengetahui kapan terjadinya kiamat, padahal turunnya Isa itu berdekatan dengan kiamat dan itu termasuk tanda-tanda kiamat besar.
Imam Ahmad, Ibnu Majah dan Hakim meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a. dari Nabi saw, beliau bersabda,” Saya bertemu Ibrahim, Musa dan Isa ketika saya diisra’kan.” Beliau lalu melanjutkan,” Mereka ( Ibrahim, Musa, Isa ) membicarakan masalah kiamat. Mereka menyerahkan masalahnya kepada Ibrahim, lalu beliau ( Ibrahim ) menjawab,’ Saya tidak mengerti.’ Kemudian mereka menyerahkan kepada Musa. Beliau ( Musa ) pun menjawab,’ Saya tidak mengerti.’ Kemudian diserahkan kepada Isa. Isa a.s. lalu menjawab,’ Adapun kepastiannya, tidak ada satu pun orang yang mengetahuinya kecuali Allah, dan Tuhanku memperlihatkan bahwa Dajjal akan keluar.’ Beliau ( Isa ) berkata,’ Dan saya membawa dua potong dahan. Maka jika dia ( Dajjal ) melihatku, dia akan hancur seperti timah.’ Rasulullah saw bersabda,” Maka Allah akan membinasakannya.” ( Musnad Ahmad 5/ 289 Hadits nomor 3557, ditahqiq Ahmad Syakir dan dikatakan “ isnad”nya shahih. )
Mereka, para Nabi yang bergelar Ulul Azmi saja, tidak mengetahui kapan kiamat terjadi. Dan Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah r.a., dia berkata,’ Saya mendengar Nabi saw bersabda ( sebulan sebelum beliau wafat ),” Engkau bertanya kepadaku tentang kiamat? Pengetahuan tentang kiamat itu hanya bagi Allah, dan saya bersumpah demi Allah tidak ada di atas bumi, manusia yang masih hidup setelah seratus tahun lagi ( yang sekarang ia masih hidup ). ( Shahih Muslim, kitab “ Keutamaan Shahabat” Bab penjelasan sabda Nabi seratus tahun lagi tidak manusia yang hidup ( yang pada waktu Nabi saw bersabda, beliau masih hidup ) 16: 90-91 ). Maksudnya hadits ini untuk menghilangkan dugaan kemungkinan Nabi saw mengetahui datangnya hari kiamat setelah ditanya Malaikat Jibril tentang kiamat itu.
Imam Ibnu Katsir berkata,” Inilah Nabi yang ummi, kepala para utusan dan Nabi yang terakhir, Nabi pembawa rahmat, penerima taubat, Nabi yang diikuti dan yang mengumpulkan manusia pada hari kiamat sebagaimana dikatakan dalam hadits shahih dari Anas r.a. dan Sahal bin Sa’id r.a.,” Saya diutus dan kiamat seperti dua perkara ini”. Lalu beliau menghimpun jari telunjuk dan jari tengahnya. Dan bersamaan dengan ini semua, Allah telah memerintahkan untuk mengembalikan masalah kiamat ini kepada Allah, apabila beliau ditanya tentang hari kiamat. Allah SWT berfirman:
“ Katakanlah,’ Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” ( QS Al A’raaf: 187 )
Dan barangsiapa yang menduga bahwa Nabi saw mengetahui kapan kiamat terjadi, maka dia amat bodoh karena Al Qur’an dan hadits menolak pendapat itu.
Ibnul Qayyim berkata,” Dan sungguh berdusta secara terang-terangan bagi orang yang menduga pada saat ini bahwa dirinya mengetahui kiamat. Hal ini disebabkan dia belum puas dengan penjelasan Rasulullah saw tentang kapan terjadinya hari kiamat. Maka perlu dikatakan kepadanya bahwa Rasulullah saw bersabda dalam kitab Jibril,” Tidaklah orang yang ditanya itu lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.
Ibnu Katsir berkata,” Apa yang tertera dalam kitab cerita Israiliyat dan ahli kitab tentang batasan ribuan dan ratusan tahun, banyak ulama yang menyalahkan, dan itu memang sikap yang tepat.” Memang terdapat sebuah hadits,” Umur dunia itu ibarat sejum’at dari beberapa jum’at di akhirat.” Hadits ini sanadnya tidak shahih, demikian juga semua hadits yang menerangkan tentang batasan umur dengan pasti mengenai hari kiamat. ( An Nihayah ).
Sebagaimana orang tidak mengetahui kapan hari kiamat terjadi, maka dia juga tidak mengetahui kapan munculnya tanda-tanda kiamat. Dan jika ada keterangan atau suatu pernyataan kiamat akan terjadi pada tahun sekian, tahun sekian, bulan ini itu, maka itu pasti dan sangat pasti itu tidak benar,dusta besar, bohong besar.
Imam Qurthubi berkata,” Bahwa segala yang diceritakan oleh Nabi saw tentang fitnah dan peristiwa dunia dan ketetapan tahun terjadinya itu membutuhkan jalan ( sanad/ riwayat ) yang benar dan meyakinkan, seperti waktu terjadinya kiamat, maka tidak ada satu orang manusiapun yang mengetahui pada tahun kapan atau bulan apa. Adapun terjadinya kiamat pada hari Jum’at ( sama dengan saat penciptaan Adam a.s. ) itu adalah pada masa terakhir. Akan tetapi hari Jum’at yang mana, tidak ada yang mengetahui kecuali Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Begitu juga ketentuan tanda-tanda zaman, tidak ada yang tahu kecuali Allah Yang Maha Mengetahui. ( Tadzkiroh Fii Ahwal Al Manta wa Umur Al Akhirah hal 678 karya Al Qurthubi ). Wallohu a’lam.
Langganan:
Postingan (Atom)
